Informasi Kursus B.Inggris




Pernahkah Anda mendengar  sebutan kampung  bahasa Inggris?  Kampung yang  berada di Kecamatan Pare,  Kabupaten Kediri,Jawa Timur itu  sangat identik dengan sosok  Muhammad Kalend Osen.  Bagaimana kiprahnya?  Sebuah plang bertuliskan  ”Kampung Bahasa”terpasang di  gang masuk Jalan Anyelir,Dusun  Singgahan,Desa Palem,Kecamatan  Pare.Sekitar 300 meter dari perempatan  jalan tersebut terdapat  sebuah lembaga kursus dengan  nama Basic English Course (BEC).

Berikut Informasi tentang tempat kursus yang ada di Pare:

1. Desa Pelem, Kecamatan Pare, Kab. Kediri Jati
Kursus yang ada :
BEC
Program : 6 bulan
Sasaran : Grammar, Speaking
Biaya : Masuk : Rp 150 rb + Spp : Rp 50rb / bln
Suasana : Agak resmi, pake sepatu, meja kelas kaya SMA, seragam hitam putih hari jumat dan ujian, wanita muslim pake jilbab, dilarang masuk kelas pake sarung bagi yg cowo
HEC 1 & 2
Program : 3 bulan
Suasana : Mirip BEC (cabangnya BEC sih)

Harvard
Program : 1 bulan
Suasana : Bebas
Biaya : kalo ngga salah Rp 75 rb / bln / program

2. Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kab. Kediri Jatim
Kursus yang ada :
ELFAST
Program : 2 Minggu & 1 Bulanan
Biaya : Rp 40rb – 85rb / bln (tergantung program apa yang dipilih
Suasana : Bebas
Sasaran : Grammar, Translation, Writing & TOEFL

Daffodiles
Program : 2 Minggu & 1 Bulanan
Biaya : Rp 70-an / bulan
Sasaran : Speaking & Pronounciation
Suasana : Bebas

Mahesa Institute
Program : 2 minggu, 1 bulanan dan program D2 plus
Biaya : tergantung ambil program yang mana
Sasaran : Grammar, Speaking
Suasana : agak resmi hampir sama dengan BEC

Smart ILC
Program : 1 bulanan
Biaya : Rp 70-80rb an/bln
Suasana : Bebas
Sasaran : Grammar
Smart ILC juga punya homestay english area yang disebut S’TORY (Smart Dermitory)

Access
Program : 1 bulanan
Biaya : Rp 70-80an/bln
Suasana : Bebas
Sasaran : Pronounciation, Speaking dan Grammar
Access punya homestay english area yang disebut Access girl /boy
Marvelous
Program : 1 bulanan
Biaya : Rp 70-80-an
Suasana : Bebas
Sasaran : Speaking, Pronounciation dan Grammar
Marvelous punya homestay english area juga yang namanya Marvelous 1, 2, 3, dst

Krishna
Program : 2 mingguan, 1,5 bulan dan 1 bulanan
Biaya : Rp 20 rb – Rp 150rb
Sasaran : Grammar & Speaking

dll (banyak banget)

Transport :

1. Naik KA
=> Dari Jakarta Ps. Senin naik KA jurusan Malang turun stasiun Kediri
Dari St.Kediri naik becak ke Halte bis Toyota (bayar max. 7rb)
Dari Halte tunggu bis besar Jurusan Surabaya yang lewat Pare (hati2 jangan sampe keliru bis yang lewat Kertosono) / naik bis 3/4 warna biru (puspa indah) jurusan Malang turun di BEC Pare ( bayar max. 4 rb)
Dari situ kamu segera cari kost dan kursusan sesuai dengan waktu yang kamu punya

=> Dari Jakarta Gambir / Senin naik KA Jurusan Surabaya / Jombang turun St. Jombang
Dari stasiun Jombang keluar melalui pintu utama kemudian jalan ke arah kanan sampai menemukan perempatan besar, nyebrang rel dan jalan raya kemudian naik bis ke arah Kediri/Trenggalek yang lewat Pare. Turun di lampu merah perempatan Tulungrejo (bayar 4rb)
Dari perempatan Tulungrejo naik becak ke Mahesa Institute bayar max (10rb)
Dari Mahesa segera cari kost dan kursus.

2. Naik Bis
Cari bis jurusan Kediri turun terminal kediri. Dari terminal naik bis besar jurusan Surabaya yang lewat Pare (hati2 jangan keliru yg lewat Kertosono) atau minibus warna biru jurusan Malang lewat Pare turun di BEC Pare. (bayar 4rb). Langkah selanjutnya sama dengan naik KA bagian pertama

Biaya Makan :

Nasi Ayam : Rp 3500-4rb
Nasi Goreng : Rp 2500-4rb
Bakso : Rp 2rb – 4 rb
Mi ayam : Rp 2500
Nasi Sayur : Rp 1500-2rb

Biaya Kost :

english area : Rp 90-220rb (include program)
non english area = Rp 40-80rb

Tempat Nongkrong :

Garuda Park (Banyak makanan)
Gua Surowono (adventuring susur gua) for free
Masjid An Nur (Masjid Agung Kab. Kediri)
Alun-alun Pare (Banyak makanan)

Sejarah Berdirinya BEC Pare Kediri



Berawal dari Emperan Masjid


Tempat kursus yang didirikan  Muhammad Kalend Osen sekitar  33 tahun silam inilah yang menjadi  embrio munculnya sebutan kampung  bahasa Inggris di dusun itu.  Selama ini sebutan kampung  bahasa Inggris sangat populer di  masyarakat.Bahkan,kampung bahasa  Inggris tersebut sudah terkenal  hingga ke berbagai penjuru negeri  ini,bahkan luar negeri.

Anda jangan lantas membayangkan  di sana seluruh warga masyarakatnya  berkomunikasi dengan  bahasa Inggris.Sebutan kampung  bahasa Inggris muncul begitu  saja dari mulut ke mulut.Tidak ada  yang tahu kapan awal munculnya  sebutan itu,entah siapa pula yang  memulai menamainya.  Sebutan itu lantaran banyaknya  tempat kursus bahasa Inggris  yang berdiri di Kecamatan Pare,  terutama di Desa Palem dan  Tulungrejo.

”Saya sendiri kurang  setuju dengan sebutan itu.Itu akibat  berita yang tidak benar.Itu  menipu,”ujar pria yang akrab dengan  sebutan Mr Kalend ini saat  berbincang dengan Seputar Indonesiabeberapa  waktu lalu.  Bapak tiga anak ini juga tidak  lantas melarang orang untuk menggunakan  sebutan kampung bahasa  Inggris untuk menggambarkan  menjamurnya lembaga kursus bahasa  Inggris di dusun itu.Sebagian  orang,terutama pelajar,bahkan  memilih menyebut daerah itu sebagai  English village.”Analisis  orang beda-beda,”katanya.  Sebutan itu juga muncul lantaran  di dusun itu rata-rata rumah warganya  dimanfaatkan untuk rumah  kos.Penghuninya adalah para pelajar  yang sedang belajar bahasa Inggris.


Jumlahnya ribuan orang dari  tahun ke tahun.Sebagai gambaran,  siswa yang belajar di BEC saja saat  ini ada sekitar 850 siswa.Belum lagi  siswa di tempat kursus lain.  Atmosfer kampung bahasa  Inggris itu semakin terasa karena  hampir seluruh rumah warga yang  disewakan untuk rumah kos  masing-masing menggunakan nama  yang diambilkan dari namanama  bule.Ada White House,Red  House,Philadelphia,Green House,  Newcastle House,Vampire House,dan  berbagai nama asing lain.  Pemilihan Kalend Osen sebagai  tokoh pendidik teladan hingga  mendapatkan penghargaan People  of The Year (POTY) 2009 dari  Seputar Indonesiabukan tanpa  alasan.Selain karena konsistensinya  selama bertahun-tahun memasyarakatkan  bahasa
Inggris,menjamurnya  lembaga kursus bahasa  Inggris di wilayah Pare yang memberikan  multiplier effectluar biasa,  tak lepas dari sepak terjangnya.

Dari sisi ekonomi,Dusun Singgahan  yang semula warganya hanya  mengandalkan hidup dari bercocok  tanam di sawah,kini bisa mendapatkan  berkah dari banyaknya lembaga  kursus yang ada.Bermula dari  adanya BEC,akhirnya muncul lembaga  kursus serupa yang begitu banyak.  Kemudian banyaknya rumah  kos,warung,toko buku,dan berbagai  usaha lain sebagai imbas dari  berdirinya lembaga kursus BEC.  Secara tidak langsung,warga  sekitar sangat merasakan manfaat  dari sisi ekonomi.

”Jelas membawa  berkah.Sangat membantu,”ujar  Wiyoto Asmo Jhon,warga Purwodadi,  Jawa Tengah,seorang alumni  BEC yang akhirnya menetap di Dusun  Singgahan dengan membuka toko  buku dan menjual beragam kebutuhan  pokok sehari-hari di sana.  Ungkapan senada dilontarkan  Yuniati,peternak lebah madu yang  tak jauh dari BEC.”Banyak sekali  siswa yang membeli madu di tempat  saya,”ujar perempuan asal  Yogyakarta ini.  Lebih dari itu,sebagian besar  pendiri lembaga kursus bahasa Inggris  yang ada di kawasan Pare adalah  lulusan BEC, walau tidak  semua.

Bahkan,tidak sedikit pula  lulusan BEC yang berasal dari luar  daerah atau luar pulau yang akhirnya  mendirikan lembaga kursus  serupa di daerah masing-masing setelah  mengenyam pendidikan singkat  di BEC,yang umumnya ditempuh  selama enam bulan.  Tidak hanya itu,kini dengan  adanya program rintisan sekolah  berstandar internasional (RSBI)  yang digagas pemerintah,cukup  banyak guru dari berbagai daerah  yang mengambil kursus singkat satu  bulan di BEC,training system(TS).  Ini karena RSBI mengharuskan  siswa dan gurunya berbahasa  Inggris dalam proses belajar dan  mengajar.  Demikianlah multiplier effect  dari berdirinya BEC yang dirintis  Kalend Osen pada 1976 silam itu.  Berawal dari Dusun Singgahan itu  lahir
ribuan orang dari berbagai  penjuruTanah Air yang akhirnya  bisa ber-cas cis cus dengan bahasa  Inggris.Sejak berdiri hingga sekarang,  BEC telah meluluskan 16.285  lulusan.

Perjalanan Panjang  Kesuksesan pria kelahiran  Kutai Kartanegara,Provinsi Kalimantan  Timur,20 Februari 1945 itu  bersama BEC tentu tidak datang  begitu saja.Perjuangan panjang  tanpa lelah dilalui bapak tiga anak  itu selama puluhan tahun.Pria  yang rambutnya mulai memutih ini  semula tak pernah membayangkan  bakal bisa meraih kesuksesan sebesar  ini.”Ini sudah jauh melebihi harapan  saya,”ungkapnya.  Kalend lantas bercerita awal  mula kiprahnya di Pare,Kediri.

Saat  itu,sekitar tahun 1976,Kalend  datang ke Dusun Singgahan untuk  berguru kepada KH Ahmad Yazid  (almarhum),tokoh agama setempat  yang saat itu menjadi pengasuh  masjid dan Pondok Darul Falah.  Selain pengetahuan agamanya yang  luas,Kiai Yazid,tutur Kalend,juga  menguasai sembilan bahasa asing.  Sebelum merantau ke Pare,  Kalend pernah belajar di Pondok  Pesantren Modern Darusssalam,  Gontor,Ponorogo,Jawa Timur.

Di  sana,Kalend tidak sampai lulus.Dia  hanya mengenyam pendidikan  hingga kelas lima Kuliatul Muallimin  Al Islamiyah (setingkat kelas  dua SMA).Saat itu usia Kalend sekitar  31 tahun,siswa tertua di kelasnya.  Sebelum masuk Pesantren  Gontor pada 1971,Kalend sudah  berprofesi sebagai guru di tanah kelahirannya,  mulai 1966–1967.Profesi  itu dijalaninya hanya dengan  bekal ijazah pendidikan guru  agama (PGA),walau hanya sampai  kelas empat (setara kelas satu  SMA).

Profesi sebagai guru di Kalimantan  tidak membuatnya puas  untuk menimba ilmu.Hingga pada  usia 27 tahun dia memilih melanjutkan  pendidikan di Pulau Jawa.  ”Saya ingin revolusi hidup,”begitu  tekad Kalend ketika pertama kali  melangkahkan kakinya meninggalkan  Pulau Borneo saat itu.  Di emperan Masjid Darul Falah  itulah Kalend memulai kiprahnya  sebagai guru bahasa Inggris.Itu pun  dijalaninya tanpa sengaja.Dia  lantas bercerita,saat itu ada dua  mahasiswa semester akhir IAIN  Sunan Ampel,Surabaya,yang datang  ke Pare untuk berguru kepada  Kiai Yazid.Kedua mahasiswa itu  hendak menjalani ujian akhir bahasa  Inggris di
kampusnya untuk  mendapatkan gelar sarjana.Namun  saat itu Kiai Yazid sedang keluar  daerah,padahal ujian akhir tinggal  lima hari lagi.

Akhirnya istri Kiai Yazid menyarankan  dua mahasiswa itu untuk  belajar bahasa Inggris kepada Kalend.”  Cobalah belajar kepada Pak  Kalend.Dia pernah di Gontor,dia  pasti bisa,”ujar Kalend menirukan  saran istri Kiai Yazid kepada dua  mahasiswa itu.  Kalend pun memberanikan  diri untuk  mengajar dua  mahasiswa itu,walau dia  belum pernah mengenyam  bangku kuliah.Akhirnya  keduanya belajar bahasa  Inggris bersama Kalend di emperan  Masjid Darul Falah selama lima hari  untuk membahas 350 soal yang  menjadi acuan untuk ujian bahasa  Inggris dua mahasiswa itu.

Berbekal  pelajaran dari Kalend,kedua mahasiswa  itu lulus dan menyandang  gelar sarjana.Setelah ujian di IAIN  Sunan Ampel Surabaya,keduanya  kembali berguru kepada Kalend. Kisah sukses kedua mahasiswa  itu lantas menyebar.Sejak saat itu  banyak santri yang berguru kepada  pria yang juga hobi bermain tenis  meja ini.Hingga akhirnya Kalend  mendirikan lembaga kursus yang  diberi nama BEC,yang pada awalnya  juga masih di serambi masjid.Pesertanya  pun hanya remaja sekitar dan  tanpa biaya.Meski begitu,setiap bulan  anak didiknya selalu memberikan  uang sekadarnya kepada Kalend  sebagai ungkapan terima kasih